
Jika sebuah perintah keluar dari mulut otoritas, kita cenderung patuh.
Aturan ini selalu berlaku, bahkan selama 1960-an yang sengit ketika kita
mengira kaum hippies hanya percaya pada obat-obatan, cinta bebas, dan
gaya anarki mereka sendiri.
Sebenarnya, para anggota dari generasi yang "terbangkitkan" sama
budaknya pada otoritas seperti orang tua mereka. Bedanya, alih-alih
mendengarkan teguran-teguran Lyndon Johnson, mereka beribadah di altar
Abbie Hoffman dan Jerry Garcia.
Ketaatan pada otoritas dibuktikan jelas pada 1965 di laboratorium
ilmuwan bernama Stanley Milgram. Dia merekrut sekelompok mahasiswa muda
dan mengarahkan mereka untuk membantunya melakukan suatu penelitian
penting.
Sedikit mereka tahu, para siswa itu sendirilah subjek penelitian Dr. Milgram.
Milgram memberi tahu para mahasiswa itu bahwa dia sedang melakukan
penelitian psikologi tentang efek hukuman terhadap pembelajaran. Setiap
mahasiswa akan memasuki lab Milgram untuk menemukan asisten lab yang
memegang clipboard dan seorang pria yang duduk di ruang kaca
bersebelahan yang terhubung melalui interkom. Pria di ruang kaca duduk
di kursi dengan elektroda terpasang di kepala dan tubuhnya. Para
mahasiswa tidak mengetahuinya, tetapi pria berkabel di ruang kaca itu
adalah aktor bayaran.
Saat "percobaan" dimulai, sang asisten lab akan mengajukan serangkaian
pertanyaan kepada sang aktor. Setiap kali si aktor menjawab salah, si
mahasiswa disuruh untuk menyetrum si aktor. Seiring tiap jawaban yang
salah, sengatan listriknya akan meningkat intensitasnya. Tentu, tidak
ada listrik dan si aktor dengan meyakinkan menjerit kesakitan, tetapi si
subjek mahasiswa tidak mengetahui semua ini.
Eksperimen tersebut berlanjut dengan tegangan "kejutan"-nya meningkat
dan jeritan kesakitan sang aktor berubah menjadi jeritan teror.
Menjelang akhir eksperimen, menjadi jelas bagi si subjek mahasiswa bahwa
si aktor (yang dianggap si mahasiswa sebagai subjek eksperimen
sebenarnya) berada dalam kondisi kritis dan setruman lebih lanjut
mungkin akan membunuhnya.
Si mahasiswa diberi tahu dengan otoritas bahwa tidak apa-apa untuk
melanjutkan. Ini adalah percobaan yang "disetujui secara resmi", dan
mereka tidak akan bertanggung jawab secara hukum atau etika atas apa pun
yang terjadi.
Menakjubkan, 62 persen dari para mahasiswa yang ikut dalam percobaan ini bersedia memberikan kejutan fatal itu.
Mereka dengan sengaja mengambil nyawa manusia lain, hanya karena
seseorang yang berwenang (otoritas) mengatakan tidak apa-apa untuk
melakukannya.
Pelajari lebih lanjut cara bermitra dengan, menggunakan, dan
menciptakan otoritas di Internet untuk memengaruhi para prospek Anda…
https://terobosan.biz.id