MEMANFAATKAN DISONANSI KOGNITIF DALAM INTERNET MARKETING from Hendy Kusmarian's blog


Selain hal2 yang dibiarkan tidak tuntas, ada hal lain yang membuat kita tidak nyaman.


Kita tidak suka jika tindakan-tindakan kita bertentangan dengan pikiran-pikiran kita.

Kita ingin alasan-alasan kokoh dan logis untuk tindakan-tindakan yang kita ambil sehingga kita selalu bisa membenarkan tindakan-tindakan itu dalam pikiran kita sendiri.

Contoh kasus: Di antara banyak hal menarik yang kita amati di Korea era 1992 adalah naik turunnya sebuah sekte akhir-dunia. “Gereja Misi Batu Hidup untuk Masa yang Akan Datang" meramalkan bahwa Yesus akan kembali ke bumi pada tanggal 28 Oktober 1992. Banyak pengikut sekte tersebut bertindak begitu jauh hingga menjual rumah dan harta pribadi mereka, melepaskan beban duniawi mereka sebelum rencana kenaikan mereka ke Surga.

Nah, sejauh pengetahuan kita, tidak ada Pengangkatan langit pada hari Oktober itu. Namun, para anggota sekte itu tidak akan mengakui kesalahan. Mereka menyodorkan segudang alasan irasional mengapa Yesus tidak muncul.

Hasrat gigih untuk menghindari mengakui kesalahan ini melangkah ke titik-titik ekstrim luar biasa. Para anggota sekte "Gerbang Surga" yang terkenal kejam (ingat, mereka yang ditemukan tewas di ranjang mereka mengenakan Nike hitam, dengan tas mereka dikemas untuk bergabung dengan makhluk-makhluk asing luar angkasa yang akan mampir untuk menjemput mereka) masih mengaku bahwa ajaran-ajaran sekte tersebut tepat. Para anggota yang masih hidup masih dikutip mengatakan, "Saya berharap saya pergi bersama mereka."

Jika proses pikiran manusia demikian mementingkan kebenaran, bahwa kematian lebih disukai daripada mengakui kesalahan, tidakkah menurut Anda kita harus menggunakan pengetahuan ini?

Pada tahun 1951, seorang pemikir berwawasan bernama Leon Festinger mempelajari orang-orang yang memiliki pengabdian yang hampir-fanatik pada mobil. Dia menunjukkan kepada kepada para subjek ujinya gambar-gambar dan spesifikasi mobil-mobil dan meminta mereka untuk memilih mobil yang menurut mereka terbaik. Setelah menentukan pilihan mereka, Festinger menunjukkan kepada mereka iklan untuk masing-masing mobil itu. Tak pelak, setiap subjek akan menghabiskan jauh lebih banyak waktu melihat iklan untuk mobil yang telah mereka pilih.

Orang akan berusaha keras untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa mereka telah membuat keputusan yang tepat, kata “Theory of Cognitive Dissonance” Festinger. Terlalu menyakitkan saja untuk melihat bukti bahwa kita salah.

Jika kita bisa memberi para calon pelanggan alasan-alasan meyakinkan dan bukti kokoh bahwa mereka sedang membuat pilihan yang tepat, menjadi jauh lebih mudah bagi mereka untuk menarik pelatuk pada keputusan tersebut.

Selengkapnya ttg Disonansi Kognitif untuk bisnis di sini… https://terobosan.biz.id

Share:
Previous post     
     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Hendy Kusmarian
Added Nov 2 '20

Tags

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives