Motivasi dan Hasrat Hidup Adalah Segalanya Dalam Bisnis from Hendy Kusmarian's blog


Banyak ahli seni bela diri membagikan kisah ini. Saya tidak tahu dari mana asalnya, tetapi saya tahu bahwa ini sangat relevan dengan apa yang kita lakukan.


Seorang Guru Zen sedang berada di hutan bersama muridnya. Entah dari mana melompatlah seekor kelinci berlari dengan marah. Seekor rubah mengikuti di belakangnya, jelas ingin kelinci itu jadi makanannya berikutnya.

Mereka menyaksikan pengejaran itu beberapa saat dan sang Guru Zen bertanya kepada siswa itu, "Siapa yang akan menang?" Siswa itu menjawab cepat tanpa berpikir, "Ya, tentu si rubah. Dia lebih kuat dan lebih cepat."

Guru Zen tetap diam selama beberapa saat untuk menambahkan penekanan pada apa yang akan dia katakan. "Tidak," jawabnya, "si kelinci akan lolos." Murid itu bingung, "Saya tidak mengerti, tuan."

"Si rubah," jawab Zen Master, "sedang mengejar si kelinci untuk makanan. Si kelinci sedang berlari demi nyawanya."

Motivasi adalah kunci sukses yang tak tergantikan. Perang Vietnam adalah pelajaran bagus dalam hal ini. Orang mungkin berpendapat bahwa alasan AS kalah dari perang itu adalah karena tentara AS tidak berperang demi rumah mereka. Mereka bertempur karena disuruh. Hati mereka bukan dalam pertempuran itu.

Sebagian mungkin mengatakan sebabnya adalah kurangnya dukungan kongres atau sejumlah faktor lain, tetapi intinya adalah bahwa, orang lawan orang, bangsa Vietnam Utara mengalahkan AS. Di luar semua politik dan spionase, Vietnam memang lebih ganas di darat.  

Semakin putus asa lawannya, semakin sengit pertarungannya. Tentara AS hanya mencoba untuk tetap hidup sampai tugas mereka selesai dan mereka bisa pulang. Kaum Vietnam Utara berjuang untuk menjaga negara mereka agar tidak dikendalikan oleh kaum asing dan untuk melindungi diri mereka dari kemungkinan eksekusi.

Itu adalah satu perbedaan motivasi yang luar biasa.

Kesenjangan motivasi itu menjadi jelas dalam bisnis kita juga, ketika gelembung dot com meledak pada tahun 2000. Banyak perusahaan berdana besar bangkrut. Ketika sumber kehidupan dari modal investasi mulai mengalir masuk, mereka tidak bisa bertahan.

Namun, aneh bagi banyak orang bahwa banyak usaha Internet "kaki lima" kecil relatif tidak terpengaruh oleh keruntuhan itu.

Tidaklah sulit bagi kita untuk melihat alasannya.

Orang-orang di balik kegagalan dot com memperoleh kekayaan tanpa harus bersusah payah. Banyak dari mereka mendapatkan banyak kekayaan pribadi jauh sebelum pasar ambruk. Jika perusahaan mereka gagal, itu bukan masalah besar. Itu tidak akan membuat dapur mereka tidak ngebul.

Mereka adalah rubahnya. Mereka hanya berlari untuk makanan lain.

Usaha-usaha kaki lima itu mempertaruhkan lebih banyak kerugian. Mereka telah berhenti dari pekerjaan harian mereka dan mencurahkan jam demi jam pada bisnis yang telah menjadi impian mereka dan seluruh masa depan mereka. Jika gagal, mereka tidak hanya akan kehilangan kebebasan yang diperjuangkan dengan keras sebagai pengusaha Internet, tetapi juga waktu yang tak terhitung banyaknya yang telah mereka curahkan pada bisnis mereka.

Mereka adalah kelincinya, yang berlari demi hidup mereka.

Sebagian kisah sukses bisnis terbesar dalam sejarah dimulai sebagai operasi kecil (dan nekad) satu-orang, tetapi tumbuh menjadi kesuksesan monumental.

Ted Nicholas (copywriter terkemuka dunia) adalah contoh pasti si kelinci. Dia memulai bangkrut, frustrasi, menganggur, dan patah semangat. Tapi, karena dia berjuang seperti kelinci demi hidupnya, dia pensiun dengan jutaan dollar, membagi waktu antara rumahnya di Sw itzerland dan di Florida AS.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda puas dengan apa yang Anda miliki, puas dengan status Anda? Apakah Anda hanya mengejar makanan lain? Apakah Anda seekor rubah?

Masa depan Anda terletak pada menjadi si kelinci. Gunakan semua teknik pemasaran yang telah Anda pelajari, tetapi yang terpenting, terapkan itu dengan urgensi, intensitas, semangat, dan bahkan rasa nekad. Terjuni setiap pertempuran seolah-olah Anda sedang berlari demi hidup Anda.

Jadilah kelincinya. Teruslah bergerak. Jangan pernah berhenti.


Share:
Previous post     
     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Hendy Kusmarian
Added Aug 22 '22

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives